April 25, 2019

Masa Politik Kolonial Liberal dan Politik Etis

Dari Politik Kolonial Liberal ke politik Ethis 1870 – 1900

Ketentuan yang pertama dimaksudkan sebagai cara untuk mencegah timbulnya kekuasaan yang akan merampas hak milik atas tanah secara semena – mena. Di sini ide humaniter tampak jelas sekali. Tetapi ketentuan kedua bagaimanapun juga ditentukan untuk perusahaan, yaitu memberi jalan kepada pengusaha – pengusaha swasta untuk memakai tanah penduduk.

Akan tetapi tanah dan tenaga kerja merupakan satu kesatuan, kedua – duanya terjalin pada organisasi politik penduduk pribumi, sehingga mereka yang menguasai tanah tersebut dapat menggunakan tanah penduduk secara sewenang – wenang, sebanyak yang dikehendakinya. Meskipun tenaga kerja harus diperoleh secara kontrak, namun tuntutan yang melampaui batas tidak dapat dicegah, karena rakyat kecil tidak berdaya menghadapi kepala – kepala mereka atau pengusaha – pengusaha perkebunan Belanda.

Sistem politik kolonial liberal yang baru itu mempunyai akibat yang menguntungkan, akan tetapi mereka tidak dapat menduga konsekwensi – konsekwensi lainnya. Bahwa akhirnya kebebasan berusaha sebagai cita – cita sosial dan ekonomi hampir menjadi kata lain dari eksploitasi kapitalis. Kenyataannya, Undang – Undang Agraria hanya melindungi modal Eropa yang ditanam di berbagai perkebunan. Lain daripada itu menciptakan kondisi – kondisi yang menguntungkan bagi perkebunan tersebut, seperti tenaga kerja murah dan hak – hak terjamin. Tidak mengherankan kalau sesudah tahun 1870 modal asing nyata – nyata mengalir ke Jawa, tempat yang paling baik untuk eksploitasi kapitalis secara intensif.

Peralihan Politik Kolonial Liberal ke Etis

Sejak Cultuurstesel dijalankan, Hindia Belanda menyetorkan kelebihan uang ke Nederland sejumlah antara 10 sampai 40 juta gulden tiap tahunnya. Ketika Batik Slot ( keuntungan bersih ) terakhir diterima pada tahun 1877 negari induk memperoleh keuntungan  sebesar 825 juta gulden.

Usul yang agak radikal diajukan oleh Van Dedem, yang menuntut dihapuskannya pengambilan keuntungan dari tanah jajahan oleh negeri induk. Bertentangan dengan persoalan ini adalah pendapat, bahwa jutaan uang yang dikeluarkan oleh perbendaharaan Nederland boleh jadi tidak banyak menguntungkan penduduk pribumi. Tetapi lebih menguntungkan Eropa. Jutaan uang yang dihasilkan oleh Hindia Belanda harus dibelanjakan untuk kepentingan perkembangan di Hindia Belanda, kecuali bagian yang menjadi hak negeri Belanda.

Hal inilah yang menjadikan politik etis mungkin juga disebut sebagai politik balas budi. Karena dirasa Belanda sudah terlalu banyak mengekploitasi semua yang dimiliki oleh kaum pribumi termasuk sumber daya manusianya. Dengan begitu ada sesuat yang diberikan dari belanda selain hanya mengeksploitasi. Dalm prosesnya lagi lagi memang tidak sesuai pada renan sistem yang telah dirancang diatas kertas. Hanya saja lebih pada pengmbalian nama baik dari segi konsep perpolitikan kolonial.

April 25, 2019

Politik Kolonial Konservatif dan Cultuurstesel

Politik Kolonial Konservatif 1800 – 1848

Periode tahun 1800 – 1830 memang merupakan suatu periode yang ditandai oleh pertentangan – pertentangan yang tajam dalam melaksanakan politik kolonial , baik pada sistem konservatif maupun pada sistem liberal.

Kelompok liberal lebih memperhatikan prinsip – prinsip humaniter, dan mengintepretasikan prinsip liberal. Sebagian prinsip memberi keadilan dan perlindungan bagi semua kepentingan. Dalam menghadapi golongan liberal yang terpecah belah ada bebeberapa efek yang dirasakan. Golongan konservatif dapat menunjukkan, bahwa sistem kumpeni terbukti efektif. Bahwa kondisi ekonomi lokal ditanah jajahan memang tidak sesuai dengan sistem liberal.

Dapat dicatat di sini, bahwa meskipun ada perbedaan ideologi yang tajam, golongan – golongan yang mempunyai perbedaan itu mempunyai titik fundamental yang sama, yaitu dasar ide bahwa tanah jajahan harus disediakan untuk negeri induk. Pada tahun 1830 politik kolonial memperoleh suatu sistem yang pasti dan konsekuen, yang kemudian dikenal dengan Cultuurstesel.

Cultuurstesel (1830 – 1870 )

Van den Bosch mengajukan suatu sistem yang dapat mendatangkan keuntungan dengan cara – cara yang lebih sesuai dengan adat kebiasaan tradisional lokal. Hakekat dari Cultuurstelsel adalah bahwa penduduk diwajibkan sebagai ganti membayar pajak tanah harus menyediakan hasil bumi yang nilainya sama dengan pajak tanah itu.

Menurut perkiraan, penduduk harus menyerahkan 2/5 dari hasil panen utamanya atau sebagai penggantinya 1/5 dari waktu kerjanya dalam satu tahun. Sistem tersebut akan lebih disesuaikan dengan adat kebiasaan pribumi yang telah ada. Hal ini berarti, bahwa kaum bangsawan feodal harus dikembalikan pada posisinya yang lama. Sehingga pengaruh mereka dapat dikembalikan untuk menggerakkan rakyat memperbesar produksi dan menjalankan pekerjaan yang diperintahkan oleh pemerintah.

Tentang kekuasaannya dapat dikatakan berbedea dengan yang dahulu, karena sekarang mereka diawasi dan ditempatkan dibawah kekuasaan pegawai Belanda. Didalam Cultuurstelsel mereka itu tidak lebih daripada pelaksana tugas yang diperintahkan dari atas. Mereka menjadi pengawas perkebunan. Cultuurstelsel harus seproduktif – produktifnya, maka oleh karena itu pengawasan Belanda diperkeras.

Hasil dari Politik Kolonial Cultuurstesel

Hasil – hasil finansial cultuurstelsel ini bagi Nederland sangat memuaskan.

  • Antara tahun 1831 dan 1877 perbendaharaan negara menerima dari daerah – daerah jajahan kekayaan sebesar 823 juta gulden.
  • Sistem ini tidak hanya memberi hasil besar bagi pemerintah, akan tetapi juga mendorong memajukan perdagangan dan pelajaran Belanda.
  • Nederland menduduki kembali posisinya sebagai pusat penjualan bahan mentah dan armada dagangnya menjadi nomor tiga diseluruh dunia. Realita tersebut memberikan pengaruh dari perubahan yang cukup signifikan setelah tahun 1850 dalam hasil progres pengembalian posisi Kolonial.
  • Pemulihan yang pesat di dalam bidang ekonomi itu disertai lahirnya partai liberal yang menggerakkan oppsisi yang gigih terhadap politik kolonial konservatif pada umumnya dan Cultuurstelsel pada khususnya.
April 25, 2019

Imperalisme Kolonial dalam Politik Koloni abad 19

Pengertian Imperalisme Kolonial Abad 19

Imperialisme berarti penguasaan kontrol politik ke daerah seberang dan sinonim dengan ekspansi kolonial. Abad 19 merupakan periode baru bagi imperialisme Belanda. Kalau kepentingan Belanda semula terbatas pada perdagangan, maka dalam periode ini Belanda mulai mengutamakan kepentingan politik.

Belanda merebut supremasi perdagangan dari orang – orang Portugis, teristimewa perdagangan rempah – rempah. Tentu saja dengan memberikan push terhadap pengembangan pada areal lainnya. Seperti ranah perdagangan rempah-rempah yang diprioritaskan untuk beberapa hasil komoditas perkebunan untuk pasar Eropa seperti teh, kopi, gula, lada, pala, cengkeh dan lainnya.

Modal Besar Untuk Politik Imperalisme Kolonial Abad 19

Modal besar bangsa eropa dimasukkan dengan cara memberikan pemahaman terhadap pemilik atau penguasa industrial dan perkebunan di wilayah Indonesia. Ada dua hal pokok yang perlu diterangkan.

  • Pertama – tama periode sebelum tahun 1850 ekspansi Belanda dapat disamakan dengan kolonialisme dalam arti Marxistis. Karena ada akumulasi modal dan kelebihan produksi di Nederland.
  • Kedua, politik kolonial Belanda setelah tahun 1850 harus diterangkan dari segi sifat dan sebab – sebabnya. Dalam ekspansi secara struktur penguasaan dan pemberian hak terhadap politik tertinggi di Indonesia. Karena jika kita melihat dari segi militer justru yang berjuang untuk prajurit sebagian besar di garda pertama yaitu kaum pribumi.

Pengaruh Ideologi di perpolitikan Imperalisme Kolonial

Ideologi politik yang besar di Eropa pada abad 19 sangat berpengaruh tehadap imperialisme dan politik kolonial. Liberalisme mulai berkembang di Nederland pada periode sesudah Napoleon dan berhasil mengubah struktur politik pada kira – kira pertengahan abad tersebut. Dalam masa empat puluh tahun berikutnya lahirlah politik kolonial yang lazim disebut politik kolonial liberal.

Menjelang berakhirnya abad itu sosialisme tumbuh sebagai kekuatan baru dalam politik Belanda dan segera tampil sebagai pendekar anti kolonialisme. Didalam menyerang imperialisme kritik mereka berbeda sekali dengan kritik kaum liberal. Pada pokoknya kaum sosialis mengutuk semua politik imperialisme sebagai alat kapitalisme, sedang kritik kaum liberal hanya mengenai detail – detail dari politik kolonial.

Karena beberapa perhelatan pada setiap abad yang dilakukan oleh bangsa eropa atau kolonial selalu memberikan corak atau identitas tersendiri. Beberapa ada ayang langsung lewat jalur militer, perdagangan, dan perpolitikan. Kesemuanya memilik penguasaan yang sama kuat akan tetapi hanya dari prioritas pada ideologi dan strategi apa yang melandasinya.

February 8, 2019

where can i get that?

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc.


There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc.

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc.

February 8, 2019

What is Lorem Ipsum?

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32.

The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham.

Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32.

The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham.

Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32.

The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham.