Politik Kolonial Konservatif dan Cultuurstesel

Politik Kolonial Konservatif 1800 – 1848

Periode tahun 1800 – 1830 memang merupakan suatu periode yang ditandai oleh pertentangan – pertentangan yang tajam dalam melaksanakan politik kolonial , baik pada sistem konservatif maupun pada sistem liberal.

Kelompok liberal lebih memperhatikan prinsip – prinsip humaniter, dan mengintepretasikan prinsip liberal. Sebagian prinsip memberi keadilan dan perlindungan bagi semua kepentingan. Dalam menghadapi golongan liberal yang terpecah belah ada bebeberapa efek yang dirasakan. Golongan konservatif dapat menunjukkan, bahwa sistem kumpeni terbukti efektif. Bahwa kondisi ekonomi lokal ditanah jajahan memang tidak sesuai dengan sistem liberal.

Dapat dicatat di sini, bahwa meskipun ada perbedaan ideologi yang tajam, golongan – golongan yang mempunyai perbedaan itu mempunyai titik fundamental yang sama, yaitu dasar ide bahwa tanah jajahan harus disediakan untuk negeri induk. Pada tahun 1830 politik kolonial memperoleh suatu sistem yang pasti dan konsekuen, yang kemudian dikenal dengan Cultuurstesel.

Cultuurstesel (1830 – 1870 )

Van den Bosch mengajukan suatu sistem yang dapat mendatangkan keuntungan dengan cara – cara yang lebih sesuai dengan adat kebiasaan tradisional lokal. Hakekat dari Cultuurstelsel adalah bahwa penduduk diwajibkan sebagai ganti membayar pajak tanah harus menyediakan hasil bumi yang nilainya sama dengan pajak tanah itu.

Menurut perkiraan, penduduk harus menyerahkan 2/5 dari hasil panen utamanya atau sebagai penggantinya 1/5 dari waktu kerjanya dalam satu tahun. Sistem tersebut akan lebih disesuaikan dengan adat kebiasaan pribumi yang telah ada. Hal ini berarti, bahwa kaum bangsawan feodal harus dikembalikan pada posisinya yang lama. Sehingga pengaruh mereka dapat dikembalikan untuk menggerakkan rakyat memperbesar produksi dan menjalankan pekerjaan yang diperintahkan oleh pemerintah.

Tentang kekuasaannya dapat dikatakan berbedea dengan yang dahulu, karena sekarang mereka diawasi dan ditempatkan dibawah kekuasaan pegawai Belanda. Didalam Cultuurstelsel mereka itu tidak lebih daripada pelaksana tugas yang diperintahkan dari atas. Mereka menjadi pengawas perkebunan. Cultuurstelsel harus seproduktif – produktifnya, maka oleh karena itu pengawasan Belanda diperkeras.

Hasil dari Politik Kolonial Cultuurstesel

Hasil – hasil finansial cultuurstelsel ini bagi Nederland sangat memuaskan.

  • Antara tahun 1831 dan 1877 perbendaharaan negara menerima dari daerah – daerah jajahan kekayaan sebesar 823 juta gulden.
  • Sistem ini tidak hanya memberi hasil besar bagi pemerintah, akan tetapi juga mendorong memajukan perdagangan dan pelajaran Belanda.
  • Nederland menduduki kembali posisinya sebagai pusat penjualan bahan mentah dan armada dagangnya menjadi nomor tiga diseluruh dunia. Realita tersebut memberikan pengaruh dari perubahan yang cukup signifikan setelah tahun 1850 dalam hasil progres pengembalian posisi Kolonial.
  • Pemulihan yang pesat di dalam bidang ekonomi itu disertai lahirnya partai liberal yang menggerakkan oppsisi yang gigih terhadap politik kolonial konservatif pada umumnya dan Cultuurstelsel pada khususnya.